Dengan sulit payah serta penuh perjuangan, pada akhirnya keraton itu berdiri.
![]() |
Pada 1744, Susuhunan Paku Buwono II membangun Keraton Kasunanan juga sebagai pengganti Keraton Surakarta yang hancur selesai momen Geger Pecinan pada 1743.
Keraton paling akhir dari Kesultanan Mataram itu, pada akhirnya didirikan di Desa Sala (Solo), suatu desa kecil yang ada di dekat pelabuhan di samping barat Sungai Bengawan Solo.
Dengan sulit payah serta penuh perjuangan, pada akhirnya keraton itu berdiri dengan gagah. Selesai pembangunan itu, atas hasrat semua penghuni keraton, nama desa itu ditukar dengan nama Surakarta Hadiningrat.
Roda kehidupan mulai bergerak, selesai Keraton Kasunanan berdiri. Raja serta rakyat hidup berdampingan dengan damai serta bersahaja.
Saat selalu berlalu, sampai pada akhirnya sampailah umur keraton itu mencapai 20 th.. Sepanjang saat itu, banyak telah bangunan sisi dari keraton yang didirikan untuk memenuhi keperluan berlindung beberapa penghuni keraton.
Pada th. 1782, atau 1708 dalam kalender Jawa. Sri Susuhunan Paku Buowo III membangun mendirikan suatu bangunan bernama Panggung Sangga Buwana.
Bangunan berupa menara itu di bangun didalam lingkungan kedhaton Keraton Kasunanan Surakarta.
Bentuk bangunan ini cukup unik, pada puncak bangunan Panggung Sangga Buwana yang berupa seperti topi bulat ada suatu hiasan seekor naga yang dikendarai manusia yang memegang busur serta anak panah.
Menurut Babad Surakarta, hal semacam itu bukan hanya hiasan semata, namun juga ditujukan juga sebagai sengkalan th. pendirian.
Juga sebagai pengingat, th. pembuata bangunan itu di beri tandanya dengan sengkalan milir bertuliskn " Naga Muluk Tinitihan Janma " yakni th. 1708, atau sengkalan milir yang mengisyaratkan nama menara itu, yakni " Panggung Mulia Sinangga Buwana " yang juga mempunyai arti th. 1708.

0 komentar:
Posting Komentar